Logo BeritaKini
bolt Terkini
OPINI

Program Mulia Sekolah Rakyat: Diuji Bukan di Kelas, Tapi di Dunia Nyata!

R

Redaksi

Senin, 20 April 2026 | 08:49 WIB

Program Mulia Sekolah Rakyat: Diuji Bukan di Kelas, Tapi di Dunia Nyata!


JAKARTA | WALIMEDIA.ID, - Di tengah riuhnya perbincangan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes). Saya lihat ada satu program presiden Prabowo yang jalan tanpa banyak sorotan. Tidak viral. Tidak ramai dibahas. Tapi menyimpan “tanggungjawab besar”.


Sekolah Rakyat. Program yang yang tidak hanya unggulan, tapi memiliki tujuan mulia: memutus rantai kemiskinan ekstrem.


Dua tahun lagi (2028), khusus Sekolah Rakyat jenjang SMA (SRMA), bukan lagi bicara soal programnya bagus atau tidak.


Tapi soal: lulusannya mau dibawa ke mana? Apakah mereka benar-benar keluar dari kemiskinan, atau kembali ke titik nol?


Sekolah Bukan Garis Finish, Hanya Titik Start.


Program Sekolah Rakyat ini tidak ditempatkan di kementerian pendidikan, melainkan di Kementerian Sosial. Sebuah keputusan yang tegas: ini bukan sekadar urusan sekolah - ini adalah intervensi program sosial yang sangat vital.


Banyak program pendidikan gagal bukan karena proses belajar, tapi karena tidak ada jembatan ke dunia nyata. Sekolah Rakyat berisiko sama jika:  Lulusannya tidak terserap dunia kerja, Tidak mampu lanjut kuliah atau Tidak punya skill relevan kebutuhan perusahaan. Artinya: kemiskinan hanya ditunda, bukan diputus!


Kementerian Sosial (Kemensos) terbiasa menangani bantuan sosial, bukan: Penyaluran kerja massal, Kemitraan industri, Ekosistem pendidikan tinggi. Ini bukan kritik, tapi fakta: misi Sekolah Rakyat melampaui struktur birokrasi yang ada saat ini.


Waktu berjalan begitu cepat. Dua tahun lagi menuju ujian pertama. Tidak banyak waktu untuk membangun pipeline ke kampus, menyiapkan link & match industri, mengubah mindset siswa dari “penerima bantuan” menjadi “pencipta nilai”. Dua tahun di kebijakan publik itu sangat singkat.


Langkah Strategis Agar Sekolah Rakyat Sukses


Berikut ini beberapa langkah konkret, bukan sekedar normatif yang bisa dilakukan kemensos. Dan saya lihat, beberapa langkah sudah dijalankan. Meskipun waktunya singkat, semua pihak harus mulai bergerak.


1. Bangun “Jalur Wajib” Pasca Lulus (Bukan Opsional).


Harus ada 3 jalur tegas untuk semua lulusan: Kuliah (beasiswa penuh + pendampingan). Kerja (penempatan industri langsung). Wirausaha (inkubasi + modal + mentor). Jangan biarkan lulusan “bingung memilih”. Negara harus mengantar sampai masuk ke sistem ekonomi.


2. Paksa Kolaborasi Besar dengan Dunia Industri.


Libatkan secara masif perusahaan milik negara (BUMN). Perusahaan swasta besar sampai startup digital. Buat skema: Kuota rekrutmen khusus lulusan Sekolah Rakyat. Program magang berbayar sejak kelas akhir. Ini bukan CSR. Ini harus jadi kewajiban ekosistem ekonomi nasional.


3. Integrasi dengan Program Lain (MBG & Kopdes)


Sekolah Rakyat tidak boleh berdiri sendiri. Hubungkan dengan Program MBG dan Kopdes Merah Putih. Lulusan SRMA yang tentunya harus memenui syarat bisa dilibatkan dalam pengelolaan dapur MBG atau karyawan Kopdes.


4. Bangun Database & Tracking Alumni Nasional


Setiap lulusan harus: Dilacak 3–5 tahun ke depan. Dipantau pendapatan & status kerja. Kalau gagal → intervensi ulang. Kalau sukses → jadi role model. Tanpa ini, program hanya jadi angka di laporan.


5. Ubah Narasi: Dari “Bantuan” ke “Investasi SDM”


Siswa Sekolah Rakyat harus diposisikan sebagai: Aset bangsa dan talenta masa depan. Bukan sekadar: Penerima belas kasihan negara. Mindset ini menentukan hasil jangka panjang.


Sekolah Rakyat adalah program yang jarang diperbincangan publik. Tapi program yang paling menentukan.


Jika berhasil, ini bisa jadi: model baru negara dalam memutus kemiskinan ekstrem secara permanen. Namun jika gagal, dampaknya lebih berbahaya: melahirkan generasi yang sudah diberi harapan, tapi kembali kehilangan arah.


Dua tahun ke depan akan menjadi ujian sebenarnya. Bukan untuk siswa lulusan jenjang SMA. Tapi ujian bagi negara. Pada akhirnya, program bukan diukur dari seberapa bagus konsepnya. Tapi dari seberapa jauh ia mengubah nasib anak manusia.


Sekolah Rakyat sudah memulai langkah yang benar. Tinggal satu pertanyaan yang harus kita jawab bersama:


Apakah kita serius mengantarkan mereka keluar dari kemiskinan, atau cukup merasa sudah membantu?*(Ditulis oleh:

Agus Sulistriyono, CEO Promedia Group)


Bagikan Berita Ini