BANDUNG I WALIMEDA – Sejatinya, Musyawarah Provinsi (Musprov) Pengurus Besar Jujitsu Indonesia (PBJI) Jabar ke-1, yang digelar di Aula Lantai 3 KONI Jabar, Selasa (7/3/2023) lalu, memiliki agenda penting untuk memilih Ketua Umum PBJI Jabar periode 2023-2027 beserta formatur.
Dari pantauan di lokasi Musprov PBJI Jabar, permasalahan yang memicu perdebatan yang cenderung memanas tersebut, terjadi saat kegiatan baru dimulai dengan pembahasan tatib, yang didalamnya terdapat poin yang menyebut, bahwa peserta yang berasal dari perguruan Jujitsu yang terdaftar di PBJI Jawa Barat, ditolak beberapa Pengcab PBJI Kota/Kabupaten, untuk tidak dimasukkan sebagai pemilik hak suara.
Menyikapi hal tersebut, Ketua I KONi Jabar, Abdul Rosyad Irwan mengatakan, dinamika Musprov Jujitsu Jabar sangat luar biasa. Banyak perdebatan yang muncul. Pengurus Jujitsu Jabar seperti berebut ingin menjadi ketua karena mungkin menghadapi PON XXI/2024 di Aceh dan Sumatera Utara.
“jadi masing-masing dari pihak Pak Mulyana sebagai incumbent dan pihak Ali Martomo saling beragumen. Sampai argumen terjadi sebetulnya kita belum tahu karena belum mendapat supervisi dari pihak PB,” ujar Abdul Rosyad Irwan, Jumat (14/4/2023) diruang kerjanya, Gedung KONI Jabar Jl. Pajajaran Bandung.
Versi Mulyana dan Eko Puji Rahardjo .cs – menurut Abdul Rosyad Irwan, mengacu pada hasil Munas pada Mei 2021. Artinya versi mereka Perguruan mempunyai hak pilih. Namun hal itu ditolak karena tak ada dalam AD/ART. Mulyanapun sempat diberi perpanjangan periodesasi oleh PB selama 3 bulan.
“Dalam perpanjangan periodesasi kepengurusan, Pak Mulyana membentuk pengurus-pengurus dari perguruan yang sebetulnya tidak dibenarkan, sebab perpanjangan periodesasi tersebut semata hanya untuk persiapan Musprov,” ujar Abdul Rosyad Irwan.
Menyikapi polemik yang terjadi, akhirnya diambil kesimpulan, yakni ihwal Musprov PBJI Jabar diserahkan ke PBJI.
“Saya katakan, silahkan kalian ribut, tapi urusan atlet biarlah kami yang mengurus untuk Jabar hattrick di PON Aceh dan Sumut. Kita bisa mengambil hikmah dari persoalan ini. Kalau semua ribut dan ngotot ingin jadi pengurus PBJI Jabar kalau dasarnya ingin membina atlet, ya mari kita gabung bareng-bareng,” ungkap Abdul Rosyad Irwan.
Gengsi dan Potensi
Hal ini – menurut Abdul Rosyad, sudah disampaikan ke Pak Ali Martomo, dan beliau menjawab siap untuk mengakomodir pihak Mulyana dkk. karena marwah untuk pencapaian prestasi adalah mewujudkan kebersamaan.
“Pihak Ali Martomo sejauh ini belum menyerahkan susunan kepengurusan PBBJ Jabar yang baru karena pihak kami sendiri belum memberikan rekomendasi. Kami tidak mengatakan terpilhnya Ali Martomo tidak sah karena permasalahan diserahkan ke PB. Ketika PB mengeluarkan keputusan soal Musprov, kami mengangggap itu sah,” ujar Abdul Rosyad.
KONI Jabar sendiri memberi saran kepada Eko cs, seandainya memiliki tekad yang sama untuk mewujudkan Jabar hattrick di PON tahun depan, mari kita bergabung. Tidak ada kelompok ini kelompok itu. Kita buat Jujitsu adalah cabor yang memiliki gengsi dan potensi untuk mencapai sukses di PON Aceh dan Sumut.
“Nah dari situlah KONI Jabar bisa memberikan perhatian yang cukup untuk menjadikan atlet-atlet Jujitsu Jabar memiliki prestasi. Pak Ali sejauh ini mengikuti saran dan arahan dari KONI Jabar agar tetap mengikuti koridor dan aturan main yang berlaku. Salah satunya adalah mereka bisa bersatu masuk kedalam kepengurusan guna persiapan babak kualifikasi (BK) PON XXI/2024,” kata Abdul Rosyad. (den)
Discussion about this post