BANDUNG | WALIMEDIA – Pedagang cuanki keliling yang satu ini mampu menarik simpati masyarakat, khususnya warga Pasirluhur, kelurahan Padasuka, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Bukan karena dagangannya, melainkan karena suaranya yang cukup merdu saat terdengar di speaker atau toa masjid.
Jajang Abdul Rahman (33). Begitulah nama lengkap pemilik suara merdu yang kesehariannya berjualan cuaki keliling ini.
Suara merdu pedagang cuanki keliling asal Cikajang, kabupaten Garut, Jawa Barat, kerap terdengar saat mengumandangkan adzan. Karena suara merdunya itu, maka tak sedikit orang merasa simpati, bahkan akhirnya tertarik membeli dagangan yang ditawarkannya.
Suara merdu pria kelahiran Garut, 1988 lalu ini tidak saja bisa terdengar dari masjid Al Qomar di Pasirluhur RW 11, kelurahan Padasuka, tempat ia bertemu dengan wartawan walimedia,Jumat (12/2/2021). Tetapi juga di masjid lain saat tibanya waktu solat wajib bagi umat muslim.
Suara merdu Jajang bisa didengarkan saat melantunkan ajakan solat untuk umat Islam (adzan). Dan karena suara adzannya yang merdu, maka tak jarang juga beberapa pengurus masjid meminta Jajang bersedia menjadi muadzin di saat Jum’atan.
Ya, selain penjual cuanki, Jajang juga seorang muadzin. Setidaknya muadzin pengganti (dadakan) bersuara merdu.

Menurut beberapa warga, jika akan tiba waktu solat wajib, Jajang mendatangi masjid terdekat. Selain untuk melepaskan lelah setelah berkeliling menjajakan dengan memikul dagangannya, Jajang juga mendatangi ke masjid untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Dan jika kebetulan tidak ada orang lain yang bersedia menjadi muadzin, sebagai penyeru tibanya waktu solat wajib, maka ia pun tampil sebagai muadzin pengganti. “Mang Jajang biasanya sudah ada (hadir) sebelum waktu adzan tiba,”kata Toto, salah seorang jamaah masjid Al Qomar pasirluhur.
Selain merdu, kata Toto yang diamini oleh beberapa orang lainnya, sepertinya Jajang juga fasih dalam melafalkan setiap kalimat adzan yang dikumandangkannya.
Karena seringnya Jajang solat dan menjadi muadzin di masjid Al Qomar khususnya, pengurus DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) pun merasa simpati. Bukti simpatinya, pengurus masjid menyediakan kain sarung untuk dipergunakan Jajang dan memborong dagangannya.
Sementara itu Jajang saat ditanya darimana belajar mengumandangkan adzan dengan suara merdu, ia mengaku memperolehnya secara alami saja. Bukan karena ia pernah menimba ilmu di pesantren atau lembaga pendidikan keagamaan lainnya.
Seperti pada umumnya anak-anak lain, kata Jajang, ia sering belajar ngaji di masjid di kampung halamannya. Karena sering mendengar adzan, ia pun tertarik dan belajar hingga bisa mengumandangkannya.
“Enggak pernah masantren (belajar di pesantren-red) sih. Cuma suka ngaji biasa di kampung, seperti anak-anak kampung pada umumnya,”jelas Jajang.(bud)
Discussion about this post