Redaksi
Selasa, 25 November 2025 | 16:42 WIB
BANDUNG | WALIMEDIA.ID – Aisha Kamila, penyanyi cilik yang terkenal berkat penampilannya di Superkids Senada Digital, kembali menunjukkan bakat luar biasanya dengan merilis mini album bertajuk Sosobatan. Berbeda dari karya-karya sebelumnya, lewat album tersebut Aisha memperkenalkan lagu-lagu berbahasa Sunda dalam sebuah konsep musik yang segar dan penuh semangat.
Rulli Aryanto, produser sekaligus
pemilik label Senada Digital Records, kepada awak media pada Selasa (25/11/2025)
mengatakan, “Aisha Kamila sudah melalui perjalanan panjang bersama kami di
Senada Digital Records, dengan dukungan yang luar biasa dari keluarga. Kami juga
sudah banyak berdiskusi dengan orang tua Aisha dan melihat potensi besar pada
dirinya. Intuisi saya mengatakan bahwa Aisha adalah sosok yang tepat untuk mengangkat
lagu-lagu Sunda, terlebih karena latar belakang keluarga Sunda yang kuat."
Mini album Sosobatan berisi enam
lagu yang melibatkan unsur jazz fusion dan groove, serta memperkenalkan kembali
kekayaan bahasa Sunda melalui karya yang modern dan mudah diterima oleh
generasi muda. Adapun judul-judulnya, yaitu: Helok Ka Anjeun, Kuat Jeung Hebat,
Prakkeun Kalayan Ati, Ciibun, Sosobatan, dan Tuwuh Tumuwuh. Album tersebut
telah tersedia di berbagai platform musik digital sejak Rabu (19/11/2025).
Album Sosobatan diproduksi oleh
Senada Digital Records melalui program Belajarmusiks, yang tidak hanya fokus
pada produksi lagu, tetapi juga pada pemahaman mendalam tentang seni menyanyi.
Aisha Kamila, dengan karakter vokalnya yang khas, menghadirkan nuansa yang
berbeda dari penyanyi muda lainnya, memperkenalkan lagu daerah yang dikemas
dalam genre musik yang lebih kontemporer.
"Di Belajarmusiks, kami
tidak hanya memberi lagu untuk direkam, tapi kami juga memberikan pemahaman
yang mendalam tentang lagu tersebut. Seorang penyanyi harus bisa membawakan
lagu dengan penuh penghayatan dan teknik yang benar, dan ini sangat penting
dalam pembentukan karakter musik Aisha," jelas Rulli.
Aisha Kamila pada kesempatan yang
sama mengatakan, untuk sukses menjalani rekaman vokal di enam lagu pada album
Sosobatan ia harus menghadapi tantangan besar, yaitu menyesuaikan lirik bahasa
Sunda dengan genre musik jazz dan groove, tanpa menghilangkan karakter dirinya
sebagai penyanyi anak yang berdarah Sunda.
“Perbedaan antara Neng Pasundan,
single yang saya rilis sebelumnya dengan mini album Sosobatan cukup kentara.
Lagu Neng Pasundan hanya satu lagu dengan genre pop, sedangkan Sosobatan berisi
enam lagu dengan genre jazz fusion dan groove yang lebih sesuai dengan karakter
vokal saya," kata Aisha.
Aisha juga mengatakan bahwa
pengerjaan Sosobatan jauh lebih seru karena banyaknya penggunaan sajak atau
syair dalam bahasa Sunda. Lagu-lagu di Sosobatan lebih membutuhkan waktu dalam
penghafalan lirik karena banyak menggunakan bahasa Sunda yang indah, berbeda
dengan Neng Pasundan yang hanya menggabungkan bahasa Indonesia dan Sunda.
Harapan Aisha untuk karya
terbarunya tersebut adalah agar generasi muda juga dapat mengenalkan budaya dan
bahasa daerah mereka melalui musik. Karena musik adalah cara yang menyenangkan
untuk melestarikan budaya, dan Aisha berharap anak-anak lain juga bisa
mengenalkan lagu daerah mereka dengan genre musik yang lebih populer saat ini.
Susy Susanti, ibu Aisha, berbagi
pandangannya tentang kolaborasi dengan Aisha dalam album Sosobatan. Ia merasa
sangat bahagia dan termotivasi untuk rekaman bersama Aisha.
“Ini bukan hanya sebagai dukungan
terhadap bakat anak, tetapi juga untuk meninggalkan kenangan indah
bersama," ungkap Susy.
Susy menjelaskan bahwa musik adalah media yang efektif untuk mengenalkan budaya kepada generasi muda, terlebih dengan Aisha yang memiliki darah Sunda. Musik adalah media universal yang mudah diterima.
Lewat musik, kita bisa melestarikan bahasa dan budaya
Sunda dengan cara yang menyenangkan.
Sendi Setia Permadie, ayah Aisha
Kamila, menekankan pentingnya peran keluarga dalam mendukung anak untuk
mencintai budaya daerah. Pendidikan dan keluarga sangat penting dalam menjaga
kecintaan anak terhadap budaya daerah.
“Budaya adalah bagian dari
identitas diri, dan sebagai orang tua, kami berusaha membuka wawasan Aisha
tentang kearifan lokal Sunda," ujar Sendi.
Sendi juga mengungkapkan
dukungannya terhadap genre musik yang dipilih Aisha untuk mini album Sosobatan.
Dukungan terbesarnya adalah dukungan moral. Aisha berani mencoba tantangan baru
dengan membawakan lagu-lagu berbahasa Sunda dengan genre jazz fusion, dan ia
berharap hal tersebut dapat memberikan angin segar bagi musik Sunda di
masyarakat.
“Mini album Sosobatan sudah dapat
dinikmati oleh para penggemar musik melalui berbagai platform musik digital.
Untuk mendengarkan lagu-lagu terbaru Aisha Kamila, kunjungi kanal YouTube resmi
Aisha di https://youtube.com/@aishakamilasuperkids,” kata Sendi.
Peluncuran mini album Sosobatan menjadi
sebuah momen istimewa yang menghadirkan kerja sama banyak pihak di balik proses
kreatifnya. Album tersebut lahir dari tangan dingin Rulli Aryanto, yang tak
hanya bertindak sebagai penulis lagu, tetapi juga memegang peran penting
sebagai produser. Dalam proses penerjemahan lirik, hadir kontribusi Harist
Ciwit, memastikan setiap makna tersampaikan dengan tepat dan menyentuh.
Dari sisi produksi musik, Tixxy
menjadi sosok kunci yang meramu karakter suara hingga mencapai warna khas
Sosobatan. Sementara itu, deretan pemain turut memperkaya tekstur musik: 13NDRL
menghadirkan sentuhan programming, synthesizer, serta loop dan drum yang
dinamis, Tixxy mengisi alunan bass yang solid, dan Pak Imo memberi nyawa lewat
permainan gitar yang penuh rasa.
Proses vokal pun tak luput dari
perhatian. DBL memegang kendali sebagai vocal tracker, sedangkan Tixxy dan Rulli
Aryanto bertindak sebagai vocal director yang memastikan setiap nuansa vokal
tersampaikan dengan sempurna. Editing vokal kemudian dipercayakan kepada
Belajarmusiks Studio’s, sebelum akhirnya Revemayuzumi menyempurnakan
keseluruhan suara lewat proses mixing dan mastering.
Di sisi visual, BikinKlips
menghadirkan sentuhan kreatif yang memperkuat identitas album, didukung oleh
karya ilustrasi dari Narayuda sebagai pembuat artwork. Untuk urusan lisensi
musik, proyek ini terdaftar melalui Wahana Musik Indonesia (WAMI).
Mini album Sosobatan dipayungi
oleh Senada Digital Records sebagai label, dengan Napakboemi Cipta Nada
berperan sebagai publisher. Distribusi musiknya dilakukan melalui PasarLagu dan
The Orchard, memastikan karya ini menjangkau pendengar yang lebih luas. Sebagai
penutup dari rangkaian proses kreatif, Napakboemi Panca Senada hadir sebagai
produser eksekutif yang mengawal visi album hingga menjadi sebuah karya utuh.
Dengan kolaborasi yang kaya dan
penuh dedikasi, Sosobatan tidak hanya menjadi rilisan musik. Tetapi album
tersebut juga sebuah persembahan artistik yang digarap dengan sepenuh hati.
Melalui peluncuran Sosobatan, Aisha
Kamila tidak hanya menunjukkan kualitas musikalitasnya sebagai penyanyi muda,
tetapi juga memberikan kontribusi penting dalam pelestarian bahasa dan budaya
Sunda melalui musik. Dengan kreativitas dan keberaniannya menggabungkan musik
tradisional dengan genre populer, Aisha berharap bisa menginspirasi generasi
muda untuk lebih mengenal dan mencintai budaya lokal.
(Dilaporkan
oleh Muhammad Fadhli)