Logo BeritaKini
bolt Terkini
SENI BUDAYA

ICF 2026 di Kota Malang: Budaya Bukan Sekadar Pertunjukan

R

Redaksi

Rabu, 06 Mei 2026 | 19:40 WIB

ICF 2026 di Kota Malang: Budaya Bukan Sekadar Pertunjukan


MALANG | WALIMEDIA.ID, - Indonesia Creative Cities Network (ICCN) akan menggelar Indonesia Culture Festival (ICF) 2026 pada tanggal 8-10 Juni 20206 di Malang. Kegiatan ini akan menghadirkan perspektif baru dalam memahami kebudayaan. 


Melalui pendekatan Living Museum, ICF 2026 akan menegaskan bahwa budaya bukan sekadar pertunjukan, melainkan sistem yang bekerja dalam kehidupan sehari-hari.


Ketua Umum ICCN Tb. Fiki Satari menjelaskan bahwa ICCN menghadirkan ICF 2026 bukan hanya sebagai sebuah event budaya, tetapi sebagai ekosistem budaya yang hidup, tumbuh, dan berkelanjutan.


"Festival ini dirancang sebagai living museum Indonesia, ruang dimana budaya tidak hanya dipamerkan, tetapi dihidupkan, dialami, dipelajari, dan diwariskan secara nyata. Di sini, tradisi bertemu inovasi.

Budaya bertemu kreativitas. Komunitas bertemu kolaborasi," katanya.


Ketua Umum ICCN Fiki Satari menambahkan bahwa Indonesia Culture Festival akan menjadi ruang hidup bagi seniman, komunitas, pelaku ekonomi kreatif, UMKM, generasi muda, hingga masyarakat lintas daerah dan lintas budaya. Bukan sekadar panggung pertunjukan, tetapi ekosistem yang menghubungkan: budaya, lingkungan, ekonomi rakyat, teknologi, edukasi, dan placemaking dalam satu pengalaman kolektif.


Melalui pendekatan ekosistem, festival ini diharapkan mampu menghidupkan ruang dan identitas lokal, memperkuat jejaring budaya, membuka peluang ekonomi kreatif, menjaga keberlanjutan lingkungan, serta membangun masa depan budaya Indonesia yang relevan secara global. Karena budaya bukan hanya warisan masa lalu. Budaya adalah energi masa depan bangsa.


"Indonesia Culture Festival A Living Museum of Indonesia bukan sekadar festival, tetapi ekosistem budaya Indonesia," tambahnya. 


Di kawasan Boon Pring, budaya hadir dalam praktik nyata, mulai dari pengelolaan sumber daya alam hingga pola relasi sosial masyarakat.


Ketua Yayasan Lintas Batas, Seto Hari Wibowo, menilai pendekatan ini penting untuk mengubah cara pandang publik.


“Selama ini budaya sering dilihat sebagai sesuatu yang ditampilkan. Padahal, budaya itu bekerja mengatur cara hidup, ekonomi, bahkan relasi manusia dengan alam,” ujarnya.


Deputi Ekosistem Kreatif ICCN, Zandri Aldrin, menekankan pentingnya membangun ekosistem, bukan sekadar event.


“Kita tidak sedang membuat festival satu kali. Kita sedang membangun sistem yang memungkinkan budaya menjadi sumber daya ekonomi yang berkelanjutan,” katanya.


Project Leader yang juga Direktur Aktivasi Kebudayaan & Pusaka ICCN Muhammad Anwar menegaskan bahwa budaya harus dipahami sebagai praktik hidup.


“Budaya itu bekerja dalam keseharian. Ketika ia dihidupkan, bukan hanya ditampilkan, maka dampaknya akan nyata baik secara sosial maupun ekonomi,” ujarnya.


ICF dirancang sebagai ruang aktivasi melalui workshop, diskusi, dan cultural residency yang memperlihatkan bagaimana budaya beroperasi secara nyata.


Forum Leader’s Talk dan berbagai sesi diskusi mengangkat isu ekonomi kebudayaan, penjenamaan kota, dan cipta ruang sebagai bagian dari penguatan ekosistem.


ICF juga mendorong kolaborasi lintas sektor melalui business matching dan penandatanganan MoU untuk memperluas jejaring.(red)


Bagikan Berita Ini