Redaksi
Senin, 13 Oktober 2025 | 14:56 WIB
JAKARTA | WALIMEDIA.ID –
Nuraa Women’s Institute (NWI) menggelar Konferensi Internasional bertajuk
“Peran Perempuan dalam Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk Mendorong
Pertumbuhan Ekonomi dan Pembangunan Berkelanjutan”. Kegiatan yang merupakan
penyelenggaraan kedua dari institut tersebut berlangsung sukses pada Sabtu, 11
Oktober 2025, di Hotel Le Meridien, Jakarta.
Presiden
Nuraa Women’s Institute, Dr. Nurhayati Ali Assegaf, menyampaikan kepada awak
media pada Senin (13/10/2025) bahwa konferensi tersebut bertujuan membahas
peran strategis perempuan dalam sektor UMKM untuk mendorong pertumbuhan ekonomi
dan pembangunan berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa UMKM merupakan tulang
punggung perekonomian nasional, dan partisipasi aktif perempuan di sektor
tersebut dapat memperkuat daya saing sekaligus menciptakan pembangunan yang
lebih inklusif.
Konferensi
tersebut mengangkat tiga topik utama yang berfokus pada penguatan peran
perempuan dalam dunia usaha. Pertama, Praktik Bisnis Berkelanjutan dan Akses
Keuangan bagi Perempuan Pengusaha (SDG 1: No Poverty, SDG 4: Quality Education,
SDG 12: Responsible Consumption and Production). Kedua, Inovasi dan Teknologi
untuk Perempuan Pengusaha (SDG 4: Quality Education, SDG 8: Decent Work and
Economic Growth, SDG 9: Industry, Innovation and Infrastructure). Ketiga,
Pengembangan Kebijakan dan Kerangka Regulasi dalam Mendukung Perempuan (SDG 5:
Gender Equality, SDG 16: Peace, Justice and Strong Institutions).
Nurhayati
menekankan bahwa perempuan bukan hanya pelaku usaha kecil, tetapi juga agen
perubahan dalam menciptakan inovasi dan lapangan kerja. “Pemberdayaan UMKM
perempuan berarti mempercepat agenda SDGs (Sustainable Development Goals/Tujuan
Pembangunan Berkelanjutan) di bidang ekonomi dan sosial,” ujarnya.
Konferensi
tersebut dihadiri oleh beragam peserta dari berbagai latar belakang, termasuk
pelaku UMKM, pembuat kebijakan, perwakilan pemerintah, pihak perbankan,
akademisi, mahasiswa, serta tokoh masyarakat. Para pembicara dari dalam dan
luar negeri turut hadir sebagai narasumber untuk memberikan perspektif global
mengenai pemberdayaan ekonomi perempuan.
Jakarta
dipilih sebagai tuan rumah karena dinilai strategis sebagai pusat pertukaran
gagasan dan kolaborasi antarnegara. Menurut Nurhayati, melalui konferensi tersebut
Nuraa Women’s Institute berharap dapat membuka ruang dialog yang produktif
serta memperkuat jejaring perempuan penggerak UMKM di tingkat global.
“Partisipasi
publik adalah kunci, dan konferensi ini dirancang sebagai forum inklusif bagi
siapa pun yang peduli terhadap masa depan ekonomi dan pencapaian SDGs,”
tambahnya.
Dari
hasil pembahasan, konferensi tersebut menghasilkan sejumlah rekomendasi
penting. Pemerintah diharapkan dapat menyediakan kerangka kebijakan dan
regulasi yang lebih inklusif guna mendukung pertumbuhan serta pengembangan UMKM
perempuan (SDG 5: Gender Equality). Sektor swasta juga diharapkan berperan
aktif melalui program kemitraan, pendampingan, dan pengembangan kapasitas bagi
pelaku UMKM perempuan (SDG 17: Partnerships for the Goals). Selain itu,
pemerintah dan sektor swasta perlu memperluas akses pasar dan peluang pengadaan
bagi UMKM perempuan (SDG 8: Decent Work and Economic Growth). Lembaga
internasional, organisasi masyarakat, dan institusi seperti NWI pun diharapkan
terus melaksanakan pelatihan serta program peningkatan kapasitas bagi perempuan
pengusaha (SDG 4: Quality Education).
Lebih
lanjut, Nurhayati menyampaikan bahwa Konferensi Internasional Nuraa Women’s
Institute menjadi wadah kolaboratif bagi para pemangku kepentingan untuk
bertukar gagasan, pengalaman, dan strategi dalam memperkuat peran UMKM
perempuan sebagai pilar penting pembangunan ekonomi berkelanjutan. Ia berharap
hasil konferensi tersebut dapat menjadi acuan bagi berbagai pihak dalam
memperkuat sinergi menuju tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs),
khususnya dalam mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan ekonomi perempuan
di Indonesia.
(Dilaporkan oleh Muhammad Fadhli)