RAGAM | WALIMEDIA – Angka kasus bunuh diri terus mengalami peningkatan, jika anda mengalami gejala-gejala seperti yang akan dibahas dalam artikel ini, waspadalah kemungkinan anda mengalami depresi yang menjadi salah satu penyebab bunuh diri.
Depresi merupakan problem kesehatan masyarakat yang cukup serius. WHO menyatakan bahwa depresi berada pada urutan nomor 4 penyakit di dunia, dan diprediksikan akan menjadi masalah gangguan kesehatan yang utama.
Gejala depresi, misalnya merasa tidak berguna, tidak ada harapan atau putus asa merupakan faktor risiko bunuh diri. Sebanyak 55% orang dengan depresi memiliki ide bunuh diri.
Depresi ditandai dengan adanya perasaan sedih, murung dan iritabilitas. Pasien mengalami distorsi kognitif seperti mengkritik diri sendiri, timbul rasa menyalahkan diri sendiri, perasaan tidak berharga, kepercayaan diri turun, pesimis dan putus asa.
Terdapat pula rasa malas, tidak bertenaga, retardasi psikomotor, dan menarik diri dari hubungan sosial. Pasien mengalami gangguan tidur seperti sulit masuk tidur atau terbangun dini hari. Nafsu makan berkurang, begitu pula dengan gairah seksual.
Pada stadium depresi yang berat tidak jarang individu dapat menjadi frustasi dan putus asa hingga muncul ide untuk menyakiti diri sendiri bahkan sampai ide untuk bunuh diri.
Kondisi memprihatinkan ini juga didukung oleh data dari WHO yang menyatakan bahwa angka bunuh diri akibat depresi bisa mencapai angka sekitar satu juta pertahun di seluruh dunia.
Upaya Pencegahan dan Pengobatan
Melansir laman kemenkes.go.id, diektahui bahwa pada individu yang sehat mentalnya selain tidak memiliki faktor risiko depresi secara genetik, mereka juga mempunyai mekanisme pertahanan diri yang baik dalam menghadapi stresor, yaitu mempunyai kepribadian yang matang, fleksibel, terbuka dan memiliki kehidupan yang religius.
Oleh karena itu, manajemen gejala depresi perlu dioptimalkan, untuk mengurangi risiko bunuh diri dan mencegah bunuh diri pada orang dengan depresi.
Lalu bagaimana peran keluarga, lingkungan dan tenaga medis dalam mengantisipasi situasi tersebut? Yang terpenting adalah segera mengenali perubahan perilaku yang terjadi pada individu yang mengalami gejala awal depresi.
Disamping itu salah satu upaya dalam Ilmu Kedokteran Jiwa adalah pendekatan komunitas. Yaitu upaya maksimal untuk memberikan edukasi, advokasi dan berbagai upaya preventif lainnya untuk mengurangi dampak akibat gangguan jiwa. Upaya yang dirasakan sangat efektif dan efisien adalah deteksi dini gangguan depresi di masyarakat.
Dengan pengobatan yang komprehensif dan holistik, yaitu biologi (obat-obatan), psikosoial (psikoterapi/konseling) dan spiritual, maka insya Allah individu yang mempunyai kecenderungan memiliki kepribadian yang rentan depresi akan dapat tertolong dengan mengetahuinya secara dini. (*)
Sumber : kemenkes.go.id
Discussion about this post