Redaksi
Selasa, 21 April 2026 | 10:23 WIB
BANDUNG | WALIMEDIA.ID, - Upaya penataan atau revitalisasi kawasan Gedung Sate atau kantor pusat pemerintahan provinsi Jawa Barat (Jabar) mendapat perlawanan sejumlah warga.
Per hari Selasa 21 April 2026 pukul 07.36 WIB, sebanyak 1.821 orang membubuhkan tandatangan petisi penolakan atas rencana penataan kawasan Gedung Sate dan lapang Gasibu yang digagas Gubernur Jabar Dedi Mulyadi tersebut.
Salah satu alasan perlawanan terhadap rencana Gubernur Jabar yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi atau KDM tersebut karena mengkhawatirkan revitalisai akan menghilangkan atau tertutupnya ruas jalan Diponegoro, Kota Bandung.
"Kita tidak menolak pembangunan, tidak menolak revitalisasi Gedong Sate dan Lapangan Gasibu. Yang kita, kami, inginkan adalah jangan ambil jalan Diponegoro. Jangan ditutup, dan jangan melakukan pengalihan lalu lintas, " tulis Ricky N Sas, penggagas petisi sebagaimana dikutip dari laman change.org, Selasa (21/4/2026).
"Yang kita tolak adalah penutupan jalan Diponegoro dan menghilangkan fungsinya dari jalan umum dengan menjadikannya bagian dari plasa yang tidak bisa diakses lalu lintas kendaraan," sambungnya.
Menurut Ricky, bila ruas jalan Diponegoro dihilangkan fungsinya dipastikan akan menambah kemacetan arus lalu lintas di kawasan gedung sate. Selain itu juga penutupan jalan Diponeoro akan mempersulit akses di sekitarnya.
"Bila seruas jalan tersebut dihilangkan fungsinya dipastikan akan menambah kemacetan di sekitar kawasan Gedong Sate semakin parah. Akan mempersulit akses di sekitar kawasan Gedong Sate- Jalan Surapati-Supratman- dan Jalan Ir. H. Djuanda (Dago), juga jalan layang Mochtar Kusumataamadja (Flyover Paspati)," jelas Ricky.
Arus Lalu Lintas Dialihkan ke Depan Hotel Pullman
Sebagaimana diketahui, Gubernur Jabar Dedi Mulyadi atau KDM akan melakukan revitalisasi kawasan Gedung Sate dengan menggabungkannya ke area lapangan Gasibu.
Menurut KDM, salah satu tujuan penataan halaman Gedung Sate yaitu agar aktivitas masyarakat bisa berlangsung lebih leluasa dan lancar, selain juga untuk memperlancar arus lalu lintas depan Gedung Sate atau Jalan Diponegoro.
Dicontohkannya, aktivitas seperti demonstrasi di depan Gedung Sate kerap mengganggu lalu lintas. Jalan Diponegoro pun terpaksa harus ditutup saat terjadi demonstrasi sehingga mengakibatkan kemacetan.
Namun kondisi seperti itu tidak akan terjadi setelah penataan halaman Gedung Sate. Masyarakat tetap bisa menyuarakan aspirasinya di depan gedung pemerintahan Jawa Barat tersebut tanpa hambatan kendaraan.
Di sisi lain, lalu lintas pun tidak akan terganggu oleh aktivitas masyarakat di depan Gedung Sate karena akan dialihkan memutar ke depan Hotel Pullman. Kendaraan tidak dapat lagi melintas di depan Gedung Sate.
"Nanti ke depan Jalan Diponegoro tetap terbuka, tidak akan terganggu oleh kegiatan di depan Gedung Sate," ujar KDM.
KDM memastikan, penataan halaman Gedung Sate tidak akan mengubah elemen penting yang sudah ada, termasuk batu prasasti Kementerian Pekerjaan Umum di area tersebut.
Penataan halaman Gedung Sate juga akan menambah estetika area tersebut. Tinggi halaman Gedung Sate akan dibuat sama dengan halaman Gasibu sehingga terlihat lebih menyatu.
"Halamannya nanti terbuka lebih luas dan lebar," kata KDM sebagaimana dikutip dari jabarprov.go.id, Rabu (15/4/2026).(red)